24/05/18

Senandung Derita Mama di Kaki Freeport

Siang itu, 10 Mei 2018, dia mencuri pandanganku. Mama yang duduk termenung disana, depan jalan utama pelabuhan Pomako, Timika. "Mama sayang, apa yang sedang kau pikirkan? Ah, sudalah! ku tahu itu semua. Janganlah kau uraikan! sebab melihatmu saja saya sudah rapuh," gumamku dalam hati yang sedang tersayat. 

[+/-] Selengkapnya...

Damai Adalah Virus Hegemoni Kolonial

Hati sakit dipaksa damai. Nalar berontak dipaksa diam berdamai. Di bawa pelangi damai, kita terus mati habis. Lalu kita dendangkan lagu damai pelipur derita. Pun dalam pasrah, damai di bibir, derita di hati, diam tersembunyi.

[+/-] Selengkapnya...

Selamanya Papua, Sayang!

sayang kawan, hari kan pergi, hilang tra kembali. kau bilang hidup sekali, dan sekali untuk Papua. lalu mereka sebut kita pemburu angin, pelancong jalanan, perusak masa. Akh kawan, kita pelaku kontradiksi. Mereka tentu penikmatnya. kitalah penentu arah angin. kita bagian dari cerita sejarah bangsa.

[+/-] Selengkapnya...