02/05/14

Penjara Abepura, Saat itu...

Bunyi gembok trali itu tiba-tiba memutus mimpi indah. Alam mimpi di ruang bebas pun sirnah. Ah sial, Tamping-tamping itu membuka pintu-pintu trali. Kembali lagi menatap kurungan tembok dan trali ini. Sedang, mentari menyusup perlahan dari sela-sela trali disana, seakan mencoba membuang rasa sial, hampa dan pengap disini. Kuregangkan badan sambil melihat lelaki yang seperti biasa menyapu
lorong kamar panjang di blok pengasingan itu.


"Selamat pagi adik," sapa lelaki itu dengan senyum khasnya. Seperti biasa, saya membalas sapaan dan kembali merapikan ruang kecil yang berukuran 2x5 meter ini. Sedang, diluar sana, terdengar Para Napi dan Tahanan ribut-ribut memulai aktivitas pagi. Ada yang olah raga, ada yang menuju ke dapur, ada juga yang duduk melamun. Tanpa lama-lama, saya keluar melewati lorong tempat lelaki itu sedang menyapu lantai.

"Mari silahkan lewat ade Victor," kata lelaki berjenggot panjang itu dengan sopan mempersilahkan saya lewat. Saya melewati saja tanpa merasa apa-apa, dan biasa-biasa saja, karena memang itu sudah selalu menjadi aktivitas dan ciri khas lelaki ini disini selama bertahun-tahun. Pria ini murah senyum, rendah hati, dan sopan santun. Segala ketulusan hatinya tiada pernah hilang terbawa hari-hari di balik trali besi ini.

Saya beranjak keluar kamar blok menuju ke dapur karena saya sudah menahan sakit maag ini dari malam. Di dapur ini, narapidana diperkerjakan dengan imbalan remisi. Mereka sudah rebus Dugi (Ubi Jalar). Di ruang Aula, saya duduk menonton berita pagi di TV sambil makan. Hampir semua stasiun TV mengabarkan berita Pemilu 2014, Kasus Korupsi, dan Kasus-kasus Kriminal di Indonesia. Tak ada satupun pemberitaan tentang Papua. Padahal setiap hari Papua didera konflik berdarah, pencurian SDA, Kriminalitas TNI/Polri, Kontak Senjata TPN dan TNI/Polri, dll. Papua diisolasi dan dihancurkan. Ah, dari pada bikin pusing kepala memikirkannya, saya masuk kembali ke dalam kamar.

"Adik Victor, minta tolong kase mati air krang di kamar, air di kaka pu kamar tra lancar jadi," kata lelaki itu menghentikan langkah saya. "Baik bapa," saya menyahutnya di pintu blok itu. Saya biasakan memanggil dengan sebutan Bapa untuk menghormatinya. Terkadang, bila pertemuan besukan dari teman-teman aktivis pejuang dari luar, lelaki ini selalu menyebut kami "kawan". "Kawan Victor Yeimo," panggilnya mencoba menempatkan posisinya yang sama sebagai sesama kawan pejuang. Tetapi saya masih terus memanggilnya Bapa.

Saya lekas-lekas mematikan krang air di kamar blok. Biasannya air hanya dijalankan pada pukul 07.00 pagi sampai 07.15 saja. Kami harus mengisi air di bak ukuran 1/2 meter, hanya cukup untuk mandi pagi. Kamar lelaki yang ramah ini berada di paling ujung blok sehingga terkadang air tidak mengalir lancar ke kamarnya, apalagi bila kamar-kamar lain sedang mengalir. Di Lorong ini, kamar-kamar yang berjejer, masing-masing diisi oleh Agus Krar, Selpius Bobii, Jeprai Murib dan berikutnya saya. Mereka menyebutnya blok pengasingan.

Selpius dan Agus dipenjara 3 tahun, untuk kasus deklarasi Negara Republik Federal Papua Barat, 19 Oktober 2011 lalu. Sedangkan Jeprai sudah menjalani 12 tahun penjara dari hukuman seumur hidup yang dijatuhi penjajah Indonesia akibat keterlibatannnya dalam kasus pembobolan senjata di Kodim, Wamena. Ia harus menjalani fisioterapi akibat strok yang menimpahnya dari Penjara Biak. 

Saya kembali duduk membaca buku novel "Jiwa Jiwa Mati" yang dibelikan oleh salah seorang teman dari Jakarta.Tidak lama berselang, saya mendengar seseorang melewati menuju kamar ujung sana. Lelaki yang hendak mandi itu menyapa dan merespon dengan tenang. "Oke kaka nanti naik ke ruang Pembinaan, karena ko sudah harus bebas demi hukum," kata lalaki itu kepada seseorang napi yang ternyata mengeluh karena masa perpanjangan penahanan habis hari ini. "oh itu lagi, pasti rameh," pikir saya karena seperti biasanya para tahanan yang harusnya bebas demi hukum itu ditahan-tahan atau sengaja dipersulit oleh petugas Pembinaan Lapas, dan biasanya para tahanan meminta bantuan kepada lelaki ini.

Tidak lama kemudian lelaki itu sudah keluar dari kamarnya. Seperti hari-hari lainnya, ia masih terus menggunakan pakean khasnya, yakni seragam Pegwai Negeri Sipil (PNS). Didadanya tertempel bendera Bintang Fajar berbentuk kartu. Seperti itulah penampilannya setiap hari disini. Penampilan seperti itu tentu tidak asing bagi orang Papua, bahkan orang Indonesia. Saya mengenal dirinya sejak masa SMK Sentani tahun 1999. Ia sudah menjalani 11 tahun penjara dari 15 tahun vonis yang dijatuhi oleh Pengadilan Indonesia hanya karena mengkoordinir pengibaran bendera secara damai di Lapangan Trikora, Padang Bulan.

Dengan wajah yang tenang ia mendampingi salah satu tahanan itu dan berbicara secara sopan. "Sesuai aturan KUHP, masa waktu penahanannya sudah habis jadi dia harus dikeluarkan" tutur lelaki yang sudah banyak membantu tahanan yang sengaja dihalang-halangi oleh petugas Lapas. Tentu saja, ia dipulangkan saat itu juga. Saya sudah terbiasa melihat kasus seperti ini. Lelaki ini banyak membantu para tahanan. Ia juga sudah rutin mendonorkan darahnya di beberapa Rumah Sakit di Jayapura. Bulan lalu, ada salah satu tahanan yang membutuhkan darah bagi istrinya yang sudah koma di Rumah Sakit Abepura, dan lelaki ini ikut membantu mendonorkan daranya hingga Pasien ini bisa sembuh kembali.

Menjelang siang, saya masih terkurung di kamar ini, mencoba membuka coretan-coretan kertas yang semakin tebal terisi mutiara kata. Buku diary itu sudah diisi penuh oleh narapidana. Mereka menuangkan rasa dalam coretan-coretan itu. Sepertinya terlalu banyak keresahan yang mereka lalui disini. Saya menyudahinya dan sesegera keluar dari kamar ini karena lonceng makan siang sudah berbunyi. "Oh, enaknya makan sate hari ini", kata salah satu tahanan disambung tertawa ringan saat melihat menu makanan. "Ah, enak apa sate seh" sahutku sambil melahap terong rebus dan nasi kosong itu. 

Pukul 12.00 siang, seperti biasanya lonceng apel siang berbunyi tanda semua tahanan dan narapidana kembali terkunci di trali besi. Selpius Bobii sibuk cangkul tanah di kebun kecil samping Aula. Ia menanam Dugi, sayur gedi, singkong dan jagung. Kadangkala, saat masa panen tiba, kita masak bersama-sama. Di kantor sana, kawan saya Dominikus Sorabut membantu mengetik surat-surat kantor yang tidak dapat dilakukan oleh petugas yang rata-rata tidak dapat mengoperasikan komputer. Dominukus juga satu kasus dengan Selpius Bobii. Disini, semua hal dilakukan untuk sekedar melewatkan hari-hari tahanan.

Siang pun berlalu. Menjelang sore kamar-kamar blok sudah dibuka. Diatas sana, lagu-lagu rohani sudah mulai terdengar. Seperti biasa, Bapak Edison Waromi memimpin pelayanan ibadah sore. Edison Waromi adalah Perdana Menteri Negara Republik Federal Papua Barat. Saya melihat ketulusan hati, kebesaran jiwa, dan keteguhan iman dalam melayani para tahanan dan narapidana di Gereja ini. Sejak ia melayani, saya lihat banyak orang merasa diberkati dan bertobat. Gereja "Emaus" ini menjadi tempat para tahanan mendapat penghiburan, pertobatan dan berkat.

Tiba-tiba saya dikagetkan dengan panggilan di pintu trali. "Kaka, tadi malam anak-anak PNG dapat pukul dari Tamping, kitong mau naik pukul ana-ana Tamping" kata beberapa adik-adik tahanan yang kebetulan sudah ambil barisan untuk baku pukul dengan tamping. "Oh, ok nanti sa kesitu", jawab saya dengan tenang. Sepertinya situasi berubah tegang di LP. Semalam, salah satu tahanan asal PNG yang ditangkap KP3 Laut melarikan diri. Mereka divonis 3 tahun penjara, padahal seharusnya mereka berurusan dengan imigrasi dan dideportasi. Adik Jufry Wandikbo, aktivis KNPB yang kini menjalani 8 tahun penjara ikut mendampingi saya.

"Saya minta teman-teman tamping datang dan kita berdamai dengan saudara-saudara kami dari PNG. Mereka harus hidup tenang dan kita harus bersahabat baik dengan mereka", saya mencoba menengahi ketegangan itu. "Kita harus selesaikan dengan adat melanesia," saya mencoba mengajak mereka. Ketegangan yang tidak dapat diselesaikan oleh Petugas LP itu berakhir dengan saling maaf-memaaf antara warga PNG dan West Papua. "Tanah ini, satu tanah air, kami harus saling menghargai sesama bangsa Melanesia", sambung Bapak Jhon Gluba Gebze, mantan Bupati Merauke, terdakwa kasus korupsi yang ikut menengahi persoalan.

Di tempat ini, hampir tidak ada program pembinaan yang dilakukan kepada para tahanan maupun narapidana. Itu sebabnya, banyak residivis disini. Petugas-petugas disini juga banyak disogok oleh para koruptor untuk bisa keluar masuk dan bisa bebas. Sangat susah bagi tahanan biasa untuk bisa keluar ijin pada saat keluarga mereka meninggal. 

Saya lihat penjara ini seperti kampung Papua. Hampir semua yang ada dalam penjara ini orang Papua. Saya bertanya dalam hati apakah hukum NKRI hanya diperuntuhkan untuk orang Papua? Apakah orang-orang pendatang itu kebal hukum. Melihatnya semakin menyiksa batin, tetapi terkadang senang karena bisa hidup seperti di negeri merdeka, karena diluar sana, dikota-kota itu, mungkin hanya orang pendatang yang akan saya temui. 

"Saya, pada saat ditangkap, Kapolda Papua tanya saya, Bapak buat Negara mana rakyatnya? saya jawab saya ini Ondoafi, saya punya tanah saya punya rakyat" ungkap Bpk. Forkorus Yaboisembut, Ketua Dewan Adat Papua dan Presiden NRFPB, dalam bincang-bincang dalam suatu waktu di dalam bloknya. Setiap hari semua tahanan dan narapidana tidak melihat dirinya, karena hari-hari hanya terkurung di kamar. Ia sosok pemimpin yang ramah, murah hati, jujur, berwibawa, rendah hati, konsekuen, konsisten, komitmen. Ia memiliki banyak pengetahuan dan memiliki dasar perjuangan yang jelas. 

Bapak Forkorus, selain alasan ideologi politik, tetapi juga sangat prihatin dengan pemusnahan etnis yang sedang berlangsung diatas tanah Papua. Ia telah menyatakan untuk berjuang mewujudkan Papua Merdeka melalui jalur yang damai dan bermartabat. Saya pun terkesima setiap duduk berbincang dengannya dibalik trali besi itu.

Matahari mulai meninggalkan peraduannya. Semua blok sudah terkunci kembali. Saya pun mengurunkan diri di balik trali besi. Saya melihat lelaki berjenggot panjang itu lewat depan trali besi ini. "Ade, kaka bangga, kita harus selesaikan masalah secara bermartabat, tidak dengan kekerasan", ajak lelaki ini dengan penuh sopan. Lelaki ini melanjutkan perbincangan dengan saya.

"Kata-kata itu lebih kuat dari batu, anak panah atau senjata. Kita sedang berbicara dengan manusia yang juga memiliki kesadaran, kita harus menyadarkan manusia dengan cara bicara baik-baik," lanjut pria yang sudah berulang kali menolak remisi-remisi apalagi grasi yang ditawarkan oleh Presiden RI ini. Ia kemudian membiarkan saya berbicara mengungkapkan pikiran dan perasaan saya. "Kenapa bapak tidak terima remisi, supaya cepat keluar dan pimpin rakyat lagi?" saya sengaja bertanya. "Ade, saya ingin tunjukan kepada dunia bahwa mengibarkan bendera bangsa bukan suatu kesalahan. Kebenaran harus dipertahankan apapun resikonya. Saya lebih sayang rakyat saya dari pada harus menghirup udara segar" tutur pria yang sudah pernah memimpin demo damai di Biak tahun 1999 dan dipenjara 3 tahun di Biak. 

Perbincangan kita, seperti biasanya, berlanjut hingga tengah malam. "Pria ini lebih suka banyak mendengar dari pada berbicara. Ia menerima pikiran yang baik dan tidak banyak mempertahankan sesuatu yang dianggap tidak benar. Ia menempatkan dirinya seolah-olah satu umur dengannya. Ia menghargai ide dan pikiran dari lawan bicara" pikirku dalam hati sambil menutup mata.

Malam semakin larut, hanya bunyi-bunyi lagu Helgas di blok-blok disana yang menambah sunyi semakin menyiksa. Saya membayangkan ketulusan hati pemimpin ini. Yah, Fileb Karma namanya. Pria pulau Karang Biak ini sudah mengabdikan dirinya untuk bangsa Papua. Ia membuang segala kebahagiaan dunia dan menderita dalam penjara demi rakyatnya. Trali besi dan tembok justru membuat dirinya semakin tulus, semakin sabar, terus berbesar hati, dan tersenyum melewati hari-harinya. 

Sepertinya saya harus segera menuju ke alam mimpi, agar alam nyata ini tidak terus menyiksa pikiran dan batin. Di alam mimpi nanti, ku harap dapat berjalan bebas mengitari rimba-rimba itu, ku harap dapat menjajaki jalan-jalan anak jalanan itu kembali. 

21 November 2013
Lapas Abepura


Share

0 komentar: