11/07/13

Trali Yang Menyiksa

Mentari meredup sembunyikan sinarnya. Di ruang hampa terkurung kembali. Terperangkap sunyi. Terbaring bisu. Menatap trali dan tembok yang tau mau tersenyum, apalagi bergeming. Desah angin malam dan rintik hujan disini, dan kucoba merangkai untaian kata yang tak bernada dalam bayang malam. Entah darimana memulainya. Bingung dan semakin menyiksa. Kulantungkan lagu agar asa ini memudar pergi, namun kembali rapuh, ditambah samar-samar alunan lagu Helgas di blog tahanan disana yang semakin menyayat batin.


Sudah dua bulan disini. Di bilik 4 blog pengasingan, hari-hari kucoba melawan gejolak batin, mencoba menerima praktek keji penguasa kolonial Indonesia yang melanggengkan hukum sebagai senjata ekspansi kekuasaan. Sejarah yang menyakitkan. Semua tentang cerita penindasan yang tak cukup, dan tak sanggup diurai dalam lembaran derita negeri. Terus tertampung dan membara dalam sanubari anak bangsa Papua. Kian hari kian menunjukkan bengisnya yang tiada tara. Kisah tentang sebuah kebenaran yang diperjuangkan dalam bayang-bayang penguasa dunia yang tamak.

Mengenang pun tiada habisnya. Memang, ini harus dijalani, tapi sampai kapan? Sebuah pertanyaan sunyi tiada bertepi. Sebuah cerita tentang derita di jalan- jalan revolusi yang bergulat dengan kisah cinta. Cinta yang ikut menghadirkan sejuta sengsara. Sampai kapan?

Blog Pengasingan Lapas Abepura, 11 Mei 2013 | 20.30




Share

0 komentar: