07/01/11

Untukmu kawan di balik trali besi Penjajah


4 Bulan sudah kita berpisah kawan. Aku disini dan engkau masih terkurung di balik trali besi penjajah. Kuberjalan mengitari waktu menghirup alam kebebasan, namun tiap langkah ini kaku dan lemah. Hari-hariku lebih menyiksa. Siang dan malam terlewati dengan penuh derita di jalan-jalan ini. Hidup di alam bebas sepertinya lebih sakit dari penjara penjajah kawan

Kisah kita kemarin masih terlintar dan terus menyiksa di pikiran. Memory kita di balik trali kemarin mengajarku banyak hal. Bagiku, penjarah tempat kita belajar, tempat kita merenung, tempat kita mengasah pedang perlawanan. Tetapi, canda kita kemarin susah kulupakan. Saat siang, kita berkumpul dan walau tubuh kita terkurung pikiran kita menembus seluk beluk perjuangan walau terkadang dihiasi dengan canda hingga berperilaku seperti orang gila dalam penjara.

Kawan, banyak hal ku belajar darimu. Caramu, gayamu, sikapmu dan canda khasmu yang selalu mengubah suasana beku. Didepanku kemarin engkau tunjukan bahwa engkau patriot mudah yang berani menyumbat taring mulut musuh yang siap menerkam. Engkau tunjukan bahwa engkau pejuang yang anti diskriminasi. Engkau membela hak tahanan dalam kerapuhan, tanpa pandang dia pendatang, pantai atau gunung.

Di depan wajahku engkau kawan yang tiada pernah bosan dan lelah dalam memimpin perjuangan kita. Engkau tunjukan dirimu seperti seorang yang bebas di luar. Cara kerjamu tiada pernah ku temukan. Engkau ku namai "pemimpin dibalik trali besi". Engkau banyak melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain yang menghirup udara bebas diluar, yang kerjanya hanya menilai, memojokan dan menggosip hasil kerja kita.

Hati ini sedih bercampur rindu. Ku lihat diwajamu kemarin engkau tersenyum setiap derita menghampiri. Kau tunjukan sikap ramah dan bersahabat kepada sesama aktivis walau mereka menyakitimu. Lapar tapi pura-pura tidak lapar, sakit tapi pura-pura tidak sakit, tangis dukamu kau campur dengan tawa yang merendah. Kawan, semua itu membuatku menyadari bahwa perjuangan ini membutuhkan sikap dan bukan teory kepintaran belaka.

Kawan, ingin sekali selalu berada disamping kawan, tetapi beban revolusi ini begitu berat dan harus kita jenjang bersama. Ku ingin mengarungi alam perjuangan ini seperti yang kita pikir kemarin di balik trali besi, tetapi langit ini belum cerah seperti 2 tahun lalu sejak kita menorehkan sejarah di jalan-jalan. Tapi bila waktu itu kembali, yang lumpu akan berjalan, yang buta akan melihat dan yang tuli akan mendengar suara perlawanan bahwa "kita harus mengakhiri".


Salam rindu


kawanmu

Victor F. Yeimo
Di tempat persembunyian


06/01/2010
Share

0 komentar: