11/03/25

November Kelabu, Mama Su Trada

Mama su trada kabar. Rasa ni seperti berdiri di tengah badai tanpa arah, diterpa angin sepih menusuk hingga tulang. Trada lagi tempat berteduh. Dunia trasa kosong, sunyi, dan seolah kehilangan warna sejak kau trada di sini. Sa su coba mencari sisa-sisa hadirmu di udara, di setiap sudut rumah, tetapi hanya kekosongan. 

[+/-] Selengkapnya...

13/02/22

Renungkan Kaum Terjajah

Tidak akan pernah ada kesejahteraan tanpa kemerdekaan. Itulah yang dihadapi Indonesia selama 350 tahun terjajah, dan dihadapi oleh bangsa Papua. Jessie E. Sampter katakan "kebebasan lebih berharga daripada roti atau beli". Kahlil Gibran berkata "hidup tanpa kemerdekaan seperti tubuh tanpa roh"

[+/-] Selengkapnya...

12/12/21

Finally, We Made It Beb

Kekasihku, bagian tersembunyi dalam jiwa, yang tersemai dalam belukar rimba derita, yang tak berubah di setiap musimnya, sa harus bilang apa pada Tuhan atas semua ini?

[+/-] Selengkapnya...

15/08/20

Mereka Memanggilku "Monyet Buronan"

Helo blog, sudah lama tidak menghias beranda putihmu dengan baik-bait derita jalanan. Banyak sekali mesti dituliskan untuk mengungkap segala rasa. Tumpukan soal dikepala membara di hati yang tidak dapat ku tulis satu persatu dengan lancar disini. Seperinya, jari jemari tidak sepandai dahulu untuk menuliskan segalanya. Jemari membeku dan hati terkadang membara. Tetapi dirudung bingung dari mana dan bagaimana mengungkapkannya. Sementara sang waktu berlalu, dan kita pun terpisah dalam pelarian sepih. 

[+/-] Selengkapnya...

12/04/20

Melawan Nasi-onalisme Indonesia

Faktor produksi, atau "bagaimana cari makan", itu jugalah yang telah menentukan keseluruhan gerak evolusi dari spesies kera hominid menjadi manusia moderen (homo sapiens) di planet bumi ini.
Jadi soal "makan nasi" itu jugalah yang membuat kita kase tinggal tanah air dan kerja dalam kolonial Indonesia. Disitulah evolusi nasionalisme terjadi, lalu kita terjajah, ingin merdeka, tapi masih mau tunduk terjajah.

[+/-] Selengkapnya...

Sosialis Papua dan Partai

Sosialis Papua belum bikin partai apapun. Partai Sosialis Papua dalam konteks organisasi revolusioner harus-lah/nya berdiri diatas landasan ideologis yang dibangun melalui tahapan strategis, dengan terlebih dahulu mempersiakan konsolidasi antar kader-kader revolusioner yang secara praksis aktif dalam teori dan praktek revolusioner selama ini.
Ideologisasi perjuangan pembebasan Papua tidak dapat dilakukan dengan sekedar unjuk pewadahan partai, sebagaimana budaya organisasi reaksioner, populis, borjuis, yang bernafsu menjadikan partai sebagai alat politik atau sebagai perpanjangan faksi ideologi dari partai lain di luar Papua.

[+/-] Selengkapnya...

Perang itu Niscaya!

Perang itu niscaya dalam dunia yang terbagi atas kelas penindas dan tertindas. Selama penjajahan dan exploitasi eksis, maka perlawanan bangsa terjajah (tertindas) juga akan eksis.
Kolonial-kapitalis itu segelintir yang punya kuasa menguras dan menindas. Rakyat tertindas itu mayoritas, yang sadar melawan, tapi juga terhegemoni dalam propaganda penguasa.

[+/-] Selengkapnya...

PASTI: Papua Akan Sejahtera Tanpa Indonesia!

Satu kata yang tepat untuk mewakili keyakinan terpendam bangsa Papua dalam penjajahan Indonesia adalah kata "PASTI" yang merupakan singkatan dari "Papua Akan Sejahtera Tanpa Indonesia".
Pasti atau yakin (confident) bahwa Papua akan sejahtera tanpa Indonesia. Lahir dari kesadaran pada realitas dan keyakinan pada perjuangan. sebagai makluk berpikir dan berimajinasi.

[+/-] Selengkapnya...

15/09/19

Hukum: Referendum Papua Wajib!

Victor F. Yeimo

Alasan tuntutan referendum oleh rakyat Papua di teritori West Papua mesti dijelaskan dengan landasan hukum internasional dan hukum domestik Indonesia. Ini penting agar penguasa Indonesia dan rakyatnya memahami duduk persoalan, menghentikan konflik, dan mengambil solusi damai.

[+/-] Selengkapnya...

09/07/18

Relevansi Marxisme Dalam Perjuangan West Papua

Kalau sejarah kolonisasi West Papua didasari motif ekonomi politik, maka teori ekonomi politik Karl Marx perlu dalam gerakan Papua Merdeka. Selama kapitalisme masih menjadi penyokong dan pendukung utama kolonialisme Indonesia, marxisme masih relevan sebagai senjata perlawanan rakyat West Papua. Selama pendudukan kolonial Indonesia di Papua dipimpin oleh pemerintahan-pemeritahan (yang pro) kapitalis kita tetap membutuhkan filsafat marxist. Tidak hanya faktor eksternal, selama ada penindasan dalam internal orang Papua, Marxisme dibutuhkan. Begitulah Marxisme, dikatakan ilmiah karena selalu didasarkan pada realitas objektif.

[+/-] Selengkapnya...

16/06/18

Perjumpaan dengan Mako Tabuni

Siang itu, 16 Maret 2008, seperti sebelum-sebelumnya, lembar kata-kata revolusi kusebar. Menyusuri setiap jalan, hampiri setiap jiwa rakyat tertindas yang haus pemberontakan.

[+/-] Selengkapnya...

Berhenti Ikut Pejuang Anti Teori

Kalau ada pejuang anti teori (pamalas baca buku, pamalas diskusi, pamalas berorganisasi), jangan pernah terhasut pada segala ajakannya! akan selalu ada pengorbanan tanpa kemajuan berarti dalam perjuangan. Kebodohan yang dipolesi dengan keangkuhan, kesombongan, pembohongan, dan emosional tidak akan pernah memerdekakan bangsa Papua. Bangsa ini akan dibebaskan oleh barisan terdidik yang mendidik rakyat dengan pemahaman praksis (teori dan praktek) sebagai basis kesadaran perlawanan revolusioner.

[+/-] Selengkapnya...

Sosialis Papua Bukan Kelompok “Freedom Dream”

Ada kegagalan memahami Sosialis Papua ketika menyamakannya dengan kelompok (gerakan) sion kids, mesianis, dan sejenisnya. Pejuang Papua Merdeka yang terdidik dengan filsafat sosialis akan menjawab, bahkan lebih utuh dan tuntas sampai ke akar-akarnya.

[+/-] Selengkapnya...

24/05/18

Senandung Derita Mama di Kaki Freeport

Siang itu, 10 Mei 2018, dia mencuri pandanganku. Mama yang duduk termenung disana, depan jalan utama pelabuhan Pomako, Timika. "Mama sayang, apa yang sedang kau pikirkan? Ah, sudalah! ku tahu itu semua. Janganlah kau uraikan! sebab melihatmu saja saya sudah rapuh," gumamku dalam hati yang sedang tersayat. 

[+/-] Selengkapnya...

Damai Adalah Virus Hegemoni Kolonial

Hati sakit dipaksa damai. Nalar berontak dipaksa diam berdamai. Di bawa pelangi damai, kita terus mati habis. Lalu kita dendangkan lagu damai pelipur derita. Pun dalam pasrah, damai di bibir, derita di hati, diam tersembunyi.

[+/-] Selengkapnya...

Selamanya Papua, Sayang!

sayang kawan, hari kan pergi, hilang tra kembali. kau bilang hidup sekali, dan sekali untuk Papua. lalu mereka sebut kita pemburu angin, pelancong jalanan, perusak masa. Akh kawan, kita pelaku kontradiksi. Mereka tentu penikmatnya. kitalah penentu arah angin. kita bagian dari cerita sejarah bangsa.

[+/-] Selengkapnya...

12/05/17

Ideologisasi Perjuangan Papua (1)

Perjuangan bangsa Papua memasuki era yang lebih maju dengan munculnya kesadaran ideologisasi perjuangan pembebasan nasional West Papua. Ada semacam transformasi gerakan reaksioner menuju gerakan yang sadar dan ideologis. Ini adalah dinamika proses yang tentu membuka peluang konflik ideologi diantara para pejuang (penggagas maupun pengikut) yang sedang mencari bentuk ideologi bangsa Papua. Proses ini semakin lebih berpeluang memunculkan konflik internal yang terbuka ketika ideologi seakan-akan dipakai hanya sebagai tameng untuk memperebutkan kekuatan dan kekuasaan politik faksi. Kemudian seakan-akan ini menjadi “perang ideologi” dalam internal perjuangan bangsa Papua, yang berimplikasi pada perpecahan yang tidak seharusnya terjadi. Lantas, bagaimana kita menyikapinya?

[+/-] Selengkapnya...

26/11/15

Makna Kemerdekaan Timor Leste Bagi West Papua

Tanggal 28 November 2015, Timor Leste akan merayakan hari Proklamasi kemerdekaanya ke-40, setelah mereka berjuang melepaskan diri dari kolonialisme Portugal dan Indonesia. Sementara, West Papua yang masih dijajah penguasa Indonesia akan memperingati hari manifesto politiknya yang ke 54, pada 1 Desember 2015. Timor Leste dan West Papua adalah dua wilayah yang dianeksasi oleh nafsu ekspansionisme Indonesia. Setelah Timor Leste berhasil mengusir kolonialisme Indonesia tahun 1999 melalui referendum, terbilang 16 tahun mereka membangun bangsa dan negaranya. Apa sebenarnya yang patus dipelajari, dimaknai dan diperjuangkan oleh bangsa Papua saat ini dari Timor Leste?

[+/-] Selengkapnya...

30/09/15

Renung Relung Derita Kita!

Tidak perlu heran dan bersedih bila pembantaian harus terus terjadi. Sadari saja diri kita sebagai bangsa yang sedang terkoloni. Adalah keharusan bagi kolonial untuk menjalankan sistem dan praktek kolonialisme diatas wilayah koloninya. Jangan berharap keadilan dalam hukum kolonial, sebab kolonialisme hanya bertujuan untuk memusnahkan manusia dan menguasai wilayahnya.

[+/-] Selengkapnya...

20/09/15

Bunga Bunga Revolusi

Ku ajak engkau riasi aku dengan sejuta warna yang membuat revolusi ini indah untuk disimak. Saat engkau menyerangku dengan berjuta gaya dan warna, engkau membuat sejarah ini berarti. Bila tidak begitu, revolusi ini sunyi. Revolusi harus dihiasi dengan bunga-bunga yang membuatnya indah diarungi, indah dipajang, indah untuk ditonton, dan tentu indah dan bergelorah untuk dilawan. Ku anggap propaganda fitnah yang kau pajang sebagai bunga-bunga penghias revolusi yang sedang bergulir.

[+/-] Selengkapnya...