19/02/09

Caroline My Melanesian

Caroline,
yupela Melanesia angles bilong mi
Fest taim mi lukim you
Mi inap follim labim wantaim yu
gutpela na naispela tok bilong u
olwaisimpresyen
Mi inap foliom labim wantaim yu

Caroline bilong mi, yu pela Melanesia
Angles kip long leva bilong mi
yupela pasifik kuwin bilong Melanesia ras
Harim Caroline angles bilong mi,
mi tokim yu turu
everi de, mi tingting long yu olwais
If naik kam, yu olwais kam long
insait drim bilong mi
mi tokim yu gen, leva bilong mi
yu meikim mi kraisi tingting long yu

Carolina angles bilong mi, yu makim
leva bilong mi broken turu
Harim em tok from leva bilong mi

Berap, 3 Feb 2009

[+/-] Selengkapnya...

23/01/09

Nyanyian Jiwa

Seruling cenderawasih merangkai nada
Angin utara menyapu daun nan rimba

Sinar surya menembus disela-sela dedaunan
tiada namun ada suara
menutup diri di hamparan hijau
jangkrit menyambut peraduan
Nyamuk rimba sehaus drakula penjajah
senyap malam membunuh rindu dan resah
senjata tua jadi bantal polo
rangsel kusut bantal malam

berlalulah dingin malam
sambut fajar pagi
inikah duniaku...?
burung taon membawa berita pagi
ku dengar posko siaga satu
ku sampaikan salam perlawanan
kita pasti mengakhiri

Tanjung Daurna, 19 Jan 2008

[+/-] Selengkapnya...

26/11/08

Bait-Bait Puisi Jalanan

AIR MATA DALAM SUNYI

Apalah artinya hidup bila air mata tak sanggup menahan rasa
semua yang terjadi biarkan ia datang dan pergi tanpa bekas
biarkan ruang-ruang ini sa telusuri walau harus menahan gejolak batin
biarkan jalan-jalan ini kutapaki satu demi-demi satu,
walau harus menahan sunyi tak bertepi
biarkan darah juang membasahi naluri jiwa yang mengering
Demi negeri, sa tunduk saat hati berkata "tanah air atau mati"

Kerom, 2 Juli 2008, 2:44 a.m

AIR MATA

Bila tak sanggup, biarkan air mata mengalir
Mungkin ini salahku
Engkau benar
Keputusanmu adalah kebahagiaanmu
duniaku bukan kebahagiaanmu

selamat datang duniaku
kemarin engkau bilang langit masih cerah
kini suram tak bersahabat
Aku rindu bermalam dalam sunyimu
Aku rindu berjalan mengitari belaska musuh

Asro, 7 Oktober 2008

IBU RELAKAN DAKU MEMBENCINYA


sa pikir engkau terakhir dalam hidup ini,
karnanya sderhana dalam kekurangan ku brikan untukmu,
setiap mendengar keputusanmu,
terpaksa air mata berlinan menahan egoisme dan keangkuhan ini,
ku membagi tulus cinta dan tangis jalanan
ditengah mereka yang tak henti mengejarku
ku ingin bisik kita tengah malam tak beralalu dalam mimpi dan angan-angan
ku bertahan walau hati sakit setiap dengar tutur katamu
Dosapun ku langgar
sebab sa pikir kau terakhir dalam hidup ini

Ternyata smua ini mimpi belaka
kala sa tahu mempertahanmu itu bukanlah terbaik bagi dirimu
sa menyesalinya....!!

Ku tanya bangsa, ku tanya ibu pertiwi
Bukankah dia teman darah juang ini?
Bukankah dia dewi dalam kesesakanku?

Terimakasih bunda....!
relakan darah juang ini,
relakanku menata jalur kita

Ku ingin engkau memelukku
Ku ingin sendiriku bahagia
Ibu yakinkanlah daku mencintai jalan kita
seperti aku mencintai dirinya...!

Bogor, 24 September 2008

NYAMUK MALAM

Andai aku bintang
ku ingin ia mencari cahayaku diantara yang lain
Andai aku bulan,
ku ingin menyinari kegelapan malam yang sunyi ini
Andai aku matahari,
ku ingin memberi sinar harapan pagi

Dunia memberi seribu arti
Ia memilih,
ia menerima dan menolak,
ia membenci dan merindu,
Ia menangisi dan menertawai

Andai aku punya sayap
kupilih terbang melintasi tebing yang menjulang
kuterima kenyataan dan menolak mata dunia
membenci hawa nafsu dunia dan merindukan dia
menangisi nasip negeri dan menertawai kabut kelam

Sunyi lebih baik.....
Dingin malam lebih nyaman
lapar lebih kenyang
nyamuk malam teman juangku

Arso 12 September 2008

SAKIT MUNGKIN TAK BERUJUNG


tabah kemarin, setiap sakit hati
Hari ini kudengar, sakit mungkin tak akan berujung
ini memang salahku...!

Kamkey, 14 Okt 2008

TAKUT MAMILIKI

Senyap malam tak senyenyap gejolak rasa ini
gelisa tak habis-habis
bingung dan sedih menuai tetes air mata malam
ku terteduh disetiap datang resah
ingin menguak cinta dan derita
tapi sejagat preman penjajah membumbung ketenangan
mereka masih setia menyetir jalan perjuangan ini
malam bangun dan siang pun ingin cepat berlalu

bukan karena mereka kutakuti hidupku
tidak juga menyayangi keakuhan
aku takut saat tak mampu memiliki kasih
aku takut saat kau kehilangan moral perjuangan
aku takut saat anak bangsa menakutiku
melihatku sinis bagai para preman penjajah itu
saat kau merasa terjajah atas kehadiranku
saat kau merasa takut memilikiku
atas jalur pilihanku...
saat itu hati ini tak tenang....

Bogor, 5 Agustus 2008


TIAP KUTIKAN


lirik lagu ku dengar,
sayup di hati...
alunan menawan hati
menghantar senja

tiap kutikan
menyentuh alam rasa
hanya kau laptop
hanya hatiku
yang bisa merasakannya

berlalulah senja
menyongsong hari gelap
malam yang penuh misteri

tak kuasa ku menahan rasa
biarlah ku menyudahinya

Btn Purwodadi, 09 November 2008, 18:25

UNTUKMU LAPTOP


Saat terbangun malam ini, hanya kau yang mampu melukiskan rasa dilayarmu
berharap kau menjadi teman dalam jalan duri yang sengit
kau menampung segala rasa ini.
dilayar putihmu, ku rangkai sedih air mata, benci dan duka
hanya kau yang mampu menyimpan segalanya. Hanya kau..!

Kerom, 2 Juli 2008, 2:53 am


TIADA SEINDAH HARI ITU

Tiada seindah hari itu
kau datang padaku
kau bisik kata mesrah malam
tak tahu sikapmu begitu kini
Bingung di kepala
sakit tiada henti di hati

Tidur tak sanggup
sunyi ini menjadi setan
lagu malam menusuk hati
menambah lelah dalam bisu

di kebisuhan pagi
ku tertidur sedih
seakan hari ini suram
tak ada semarak
hanya desahan nafas pasrah

Kerom, 7 November 2008




[+/-] Selengkapnya...

06/11/08

Titian Kelam

Mungkin... Tapi, memang begitu...
Padahal... Biarlah begitu...
Sekalipun... Tapi, sudahlah...
Memang...
Semoga...
Terimakasih...

[+/-] Selengkapnya...

12/08/08

Cermin Buat Indonesia

Victor F. Yeimo
(Editorial kabarpapua.com)

PAPUA BARAT masih menjadi wilayah konflik politik sejak wilayah ini diintegrasi kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh dan atas kepentingan ekonomi politik Jakarta-AS. Konflik itu masih membara ulah Jakarta yang masih belum mempunyai kemauan politik dalam penyelesaian status quo ini. Gejolak politik di Papua Barat tentu bukan hal yang baru. Konflik tersebut tidak hanya memakan waktu puluhan tahun, tapi juga memakan korban ratusan ribu jiwa rakyat Papua Barat.

Akar persoalannya adalah Rakyat Papua minta pengakuan kemerdekaannya, sedang Jakarta tidak ingin pemisahan wilayah Papua Barat. Indonesia bahkan mereduksi akar persoalan ini semata persoalan sosial dan ekonomi masyarakat Papua Barat. Lantas, Jakarta terus memasung segala kebijakan sebagai pendekatan resolusi. Nyatanya, rentetan kebijakan itu tidak satupun berarti bagi rakyat Papua Barat. Bahkan, ikut menyuburkan konflik politik tadi. Dan lebih dari itu ikut membangun kesadaran politik rakyat Papua Barat akan penentuan nasip sendiri, lepas dari praktek-praktek penjajahan keji yang dilakukan oleh Indonesia di Papua Barat.

Kasus pengibaran Bintang Kejora (09/08) di Wamena dan rentetan pengibaran kasus sebelumnya yang terjadi secara sporadis di Papua Barat masih sebatas percikan bara dari akar persoalan yang ada. Lantas, cap "Separatis OPM", dan sebaliknya "NKRI Harga Mati" masih menjadi slogan mulia bagi Pemerintah Pusat, Ormas Agama Islam yang reaksioner, terlebih TNI/POLRI di Papua Barat yang seakan-akan memberikan pembenaran terhadap perlakuan sewenang-wenang mereka, seperti menangkap, menculik, menembak/membunuh rakyat sipil Papua Barat.

Kejahatan kemanusiaan pun dianggap mulia bagi negara yang ber-pancasila dan ber-UUD ini. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini kita lihat dan dengar tidak ada pemberlakukan hukum yang adil atas banyak kasus kejahatan TNI/POLRI di Papua Barat. Dua bulan lalu, 10 anggota Kopasus Lantamal X Hamadi Jayapura memperkosa warga setempat, namun tidak ada keadilan bagi korban. Sampai pada penembakan di Wamena kemarin, Wapres Yusuf Kalla, Senin (11/8/2008) malah menuding perlakukan aparat Polri dan mengkriminalkan warga sipil yang melakukan aktivitas perayaan damai pada hari pribumi sedunia. Kelakuan pemerintah dan aparat yang anti hukum dan HAM ini juga ikut memperburuk wajah Indonesia di mata dunia.

Hal ini jugalah yang memicu Solidaritas Internasional dalam masalah Papua Barat. Solidaritas Internasional di Papua Barat, mulai dari komitmen pemerintah Vanuatu tentang dukungan kemerdekaan bangsa Papua Barat; Laporan Khusus untuk Pembela HAM Hina Jilani, serta Pelapor Khusus Penyiksaan Manfred Nowak yang mempermalukan Indonesia di pertemuan Dewan HAM PBB; Kunjungan Kongresman AS, Eny Faleomavaega beserta surat-suranya yang dialamatkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; serta terakhir surat 40 kongres AS kepada Presiden SBY yang meminta pembebasan tanpa syarat Tahanan politik Filep Karma dan Yusak Pakage adalah beberapa rentetan bukti bahwa persoalan Papua Barat tidak dapat dianggap sebagai persoalan nasional Indonesia. Pertama, Presure internasional dalam masalah Papua Barat ini, paling tidak ada kesadaran Pemerintah Indonesia untuk bercermin kembali wajah aparat negara dalam memperlakukan bangsa Papua Barat selama ini, tanpa harus memberikan reaksi balasan kepada 40 kongres AS dalam masalah nasional Indonesia.

Kedua, Perspektif Indonesia terhadap aksi Solidaritas LSM, Support Group, Komisi PBB serta Lembaga negara seperti 40 surat kongres AS hingga pengibaran bendera Bintang Kejora, PBB dan SOS di Wamena yang merenggut 1 korban jiwa ini musti mengacu pada nilai-nilai Universal yang ada. Sebab, Indonesia sebagai bagian dari komunitas Internasional, dan sebagai Dewan HAM PBB telah meratifikasi sebagian besar konvesi HAM PBB. Desakan internasional itu musti dilihat dalam kerangka Universal, misalnya mengacu pada Deklarasi Universal HAM PBB tentang hak-hak sipil politik, hak seseorang untuk bebas berorganisasi dan berekspresi. Desakan-desakan itu sebenarnya tidak jauh dari semangat penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang disepakati dan diatur secara universal. Apalagi aksi di Wamena pada hari Pribumi Internasional adalah bagian dari semangat masyarakat pribumi terhadap Deklarasi Hak-Hak Penduduk Asli pada 13 Sepetember 2007 lalu, dimana Indonesia juga merupakan salah satu dari 143 negara yang ikut menyetujui Deklarasi itu.

Ketiga, Aksi rakyat dalam menuntut hak politik di Papua Barat tentu bias internasional. Masalah konflik politik Papua Barat sejak pendudukan Indonesia diwilayah ini, tentu erat kaitannya dengan Amerika Serikat, Belanda, bahkan PBB. Makanya, pemeritah RI tidak harus memandang persoalan Papua secara parsial, terlebih untuk menjadikan wilayah Papua Barat sebagai wilayah protektoral.

Menyoal Papua berarti ada catatan sejarah buram tentang status politik wilayah ini dan praktek-praktek penjajahan negara yang menuntut rekonsiliasi konflik yang proporsional. Pernyataan-pernyataan penolakan intervensi AS pasca surat 40 kongres AS serta kriminalisasi terhadap rakyat pribumi atas kasus pelanggaran HAM TNI/POLRI di Wamena ini ibarat meniup barah dalam sekam, dan oleh karenanya represi militer terhadap hak demokratik rakyat pribumi juga semestinya dihentikan.***

[+/-] Selengkapnya...

Aksi Kutuk Penembakan Opinus Tabuni, Jakarta 11 Agustus 2008

Aksi Front PEPERA PB Konsulat Indonesia Wilayah Jawa Barat di Depkes RI Bundaran HI dan Istana Negara Jakarta mengutuk tindakan kekerasan TNI/POLRI di Wamena yang menewaskan Opinus Tabuni saat perayaan Hari Pribumi Internasional. Lihat fotonya:







[+/-] Selengkapnya...

11/08/08

Hari Pribumi Internasional di Wamena: 1 Tewas Tertembak

Jayapura, [kabarpapua.com] -- "Tuhan Yesus, seandainya Engkau Tuhan berkulit hitam seperti orang Papua, pasti engkau menolong bangsa ini dari dulu atau saat ini. Tapi, engkau berkulit putih jadi biarkan bangsa lain mengambil nyawa kami. Dari pada air mata ini terus membasahi negeri ini, musnahkan bangsa Papua dari muka bumi ini", demikian satu bait doa yang diucapkan seorang Penginjil Tua di Wamena saat menyaksikan Opinus Tabuni (35) tertembak, Sabtu siang lalu di Wamena. Berikut Foto korban penembakan oleh TNI/POLRI dan Pengibaran Bendera bangsa Papua Barat, Bintang Kejora, bendera SOS dan PBB dalam kerumunan masyarakat Pribumi Papua Barat di Wamena.





[+/-] Selengkapnya...

01/08/08

Tangis Dogiay

Anak-anak mereka kini piatu
Sanak sodarnya menangis melelehkan air mata
Lelaki muda dipaksa sedih mengubar air mata
kini semua paham
kini semua tau sungai air mata bukan mimpi bukan khayalan
airnya jenih bagai danau Tigi-Tage
tak banjir dimusim penghujan
tak kering diwaktu kemarau tiba
sungai airmata selalu mengalir
entah dimana akan bermuara
tapi siapa yang mengerti
ikan emas engan hidup di disungai airmata
sebab ikan emas pun tau hakikat air mata adalah derita
tapi siapa pula tak mengerti
sekelompok manusia bergembira diatas perahu
melintas di sungai air mata
menebar pukat dan jalan
Dijalan-jalan berderet Ekstrada milik sekelompok klas sosial

Itu yang kudengar kemarin di Dogiyai
Itu yang kurasa hari ini pedih
178 meninggal dalam sebulan
Wabah buatan tangan penjajah merenggut nyawa mereka sekampung
Di layar kaca, ku lihat ku dengar
Retorika penjajah mengubur malu
Kaya negeriku, derita rakyatku
Derita tak berujung
Kemarin mereka, hari ini engkau, esok waktuku

Freeway, 1 Agustus 2008

[+/-] Selengkapnya...

Rindu Adik

Ade, kenapa engkau susah untuk sa hubungi seminggu ini
ade, benarkah kau lupakan kaka
masihkah ada setitik harapan di hati ade
Disana kau mengembara seorang diri
Disini setiap jalan tertutup

Ade, tidak ku tau kan kemana dikau
Diamku hari ini beribu rasa yang sulit sa jelaskan
Hari kemarin masih sama
8 tahun kita berpisah, duniamu tak ku tahu
dan kaupun demikian
tapi ceria masa silam masih terbayang jelas
kau adikku remajamu tak tahu kini
Sibuk pilih kuliamu juga tak
adik, kaka rindu.....!

Freeway, 1 Agustus 2008

[+/-] Selengkapnya...

Jakarta Kota Puisi

Jakarta bagiku kota puisi
Papua bagiku tanah prosa
kunyatakan segala apa yang terasa cinta
seluruh apa yang paling sa benci
apa yang tak kunyata-katakan itulah sisa
yang sengaja kutinggalkan
maka pahamilah
dusta adalah yang sebesar-besarnya dosa
selingkuh dan tipu
adalah saudara kembarnya,-

Freeway, 1 Agustus 2008

[+/-] Selengkapnya...