Mama, lirik lagu ini sa dengar. Sa hancur.
Sa su coba peluk rasa ini dalam-dalam.
"mam tdk bisa pegang hp krn mam pu tulang2 skt"
itu SMS terakhir kemarin buat sa lemah.
Saat itu, sa di alam revolusi
Suatu jalan yang kita pilih bersama mam...
Jalan restu yang mam kasih...
Mam....!
Kemarin semua melihatku sinis.
Keharusan ditutupi dengan kefatalan.
Mereka bilang sa detruktor revolusi ini
Setiap sa bangkit, mereka memandangku penuh konfrontasi
Kehadiraku merasuk ketenangan mereka,
hingga ke alam mimpi mereka
Haruskah sa biarkan fatalisme perjuangan ini terjadi?
Tidak, yang benar tetap benar, itu yang mam bilang
Progresif dan profesionalisme dalam perjuangan sangat penting
Apalagi bermimpi bangun suatu organisasi negara
Tidak ada alasan primodial untuk membenarkan ketidakmampuan dalam perjuangan
Mam...
Hari ini penyesalan mengelabui delegasi
Port Vila, ibukota negara itu seakan-akan hanya menjadi kunjungan wisata delegasi
Tidak banyak terjadi. Hanya membawa pulang kebingungan
Mereka tak dengar,
Kebanaranku dibalas fitnah yang ditujukan pada sa
Ternyata perjuangan ini masih menjauh mam...
Di pulau dewata, sakit dua itu akibat smua ini.
Mam,
Sa capeh skali.
Cape pikir smua ini.
Relung malam ini masih tidak terlepas dari piluh bertubi mam
Irama lagu senduh malam ini menambah kepedihan begitu dalam
Dua jam telah berlalu dalam kepedihan
Masih bersama judul dia mereka dan aku....
Mam.. Sa rindu ada dalam pelukan mam malam ini..
sungguh....!
25/04/08
Yu No Save Jensim
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Derita Jalanan
19/03/08
BAHAYA KECELAKAAN POLITIK: WIN-WIN OPPORTUNITY
Pengalam Lalu: Siapa yang salah
Sejarah seharusnya menjadi guru yang baik dalam melakukan perjuangan pembebasan nasional Papua Barat. Pertama, Secara de facto 1 Desember 1961, rakyat Papua Barat berikrar mendirikan negara Papua Barat, nyatanya Jakarta dengan misi trikora mengklaim itu negara boneka, hasilnya pendudukan NKRI di bumi kasuari ini; kedua, PEPERA 69 paling tidak DMP difungsikan dan bisa jadi kemenangan rakyat Papua, ternyata 1025 jiwa berhasil diringkut untuk memenangkan PEPERA; ketiga, sebagai reaksinya, OPM bermula di Manokwari melakukan perlawanan, hasilnya rakyat Papua Barat korban militer sebelum dan sejak DOM di Papua Barat.
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Pendidikan Politik
28/02/08
Emosi Revolusi Dalam Kekuatan Cinta
Dalam darah juang ini, tak pisahnya dari dua hal yang telah memborong perhatian, hadir dan semakin tak dapat sa bendung, banyak menyita perhatian, mengisi ruang-ruang massa puber yang semakin senja, antara romantisme dan revolusi. Dua hal yang meruba wujud pembentukan rohani dan mentalitas. Membuat sa jatuh dan bangkit demi makna terselubung dalam hidup ini.
Perjuangan belum berakhir, dan tak rubahnya, deras penjajahan tak henti. Ia mengalir membentur bilik hati yang merana pengharapan. Menusuk dan semakin menjadi-jadi, hingga tujuh jurus mengelola emosi, karya Dudung yang pernah sa baca, tak mempan lagi. Sebuah kondisi sub-human, tutur Dom Helder Camara, dari praktek penjajahan, menjadi nyata pada saya dan semua kolega saya yang berada di hutan belantara, di jalan-jalan demonstrasi anak bangsa, dan di jeruji besi kolonial Indonesia.
Pada bagian ini, perlawanan emosi mengganti Ak-47 dan M-16, senjata mental yang jelas-jelas tak berpeluruh, yang ku pikul dengan capeh setiap saat berjalan melalui rimba kehidupan yang penuh tantangan di alam hasrat. Saat-saat dimana sa membutuhkan pengharapan. Ini memang jalan revolusi tak berwujud, saat dimana aku butuh saat-saat teduh yang panjang bersama dalam ruang lain dari satu atap konsentrasi ini.
Di ruang-ruang yang lain itu, mirip cinta agape turut memaknai darah juang. Selayaknya manusia, secara kodrati, ia kekasihku, bukan sekedar kebutuhan rohani, tapi tak ubahnya sebuah pengasah pedang tempur. Aku pedang tempur yang diasah di medan revolusi. Dia yang tak dapat ku rangkai dalam bait-bait puisi malam.
Bisik-bisik kecil kita semalam, terlarut dalam emosi, hingga kekasih, kau tinggal tugasmu, hampir bangun kesiangan, di ruang klas itu, kelopak mata berkedip dan tak membuka lama. Emosi ternyata membuat kita terlena. Bukan karena benci, tapi semua karena cinta agape.
Hadirnya di sore kemarin, membuka pendengaranku melebar, mata hati menjadi sensitif, pembulu darah menjadi besar. Saat itu, seperti puisi Pablo Marinda, sa ucap kata dalam menaklukan emosi kami semalam, sebuah pembahasan kecil yang memaksaku memaknai arti penting dari sebuah komunikasi.
Bayang-bayang emosi penjajah masih mengikuti, disaat bicara kita kemarin tentang penghianat bangsa kita, Papua Barat yang menggerogoti kemaluan mama kita, tanah air Papua Barat. “Mereka anak negeri yang rela membuka kain sutra mama”, sebuah kutipan puisi kepedihan anak Fak-fak (Yohanes Adopak) yang pernah tersalin di blog bebo. Anda tau?, dia, kekasihku, berusaha menyirami lahar emosi ini dengan ucapaan yang sebenarnya bermakna, hal mana kurasakan sehabis bicara hingga semalam.
Perdebatan kami kemarin selaras tujuan dengan rasa yang berbeda. Hingga pretensi kita berbeda haluan. Disaat emosi diperlukan dalam perjuangan pembebasan Papua Barat dan bahaya emosi bagi gerakan pembebasan.
Darah mendidih dan seakan emosi menjadi jembatan melakukan revolusi. Itu jalan satu-satunya yang coba sa tawarkan dalam diskusi bersama dia kekasihku di negeri Kangkuru, sebuah negeri yang tak bedanya dengan praktek penjajahan yang terjadi disana. Cukup menarik juga, ia bertutur dalam keemasan suara merdu, dan sa yang dikuasai ambiguitas, tetap bertahan dalam argumen saya.
Dari semua kata berarti yang ia ucap, satu hal ia ucap, ucapan yang tak bisa saya debat lagi. Hilang kata-kata, dan memang saya tidak punya dasar untuk mencoba menggugurkan kalimat yang terucap dari bibir kekasihku.
“Baby,” panggilnya mesrah, “kalau berjuang angkat senjata karena emosi, ko siap secara jasmani, tapi rohani siap ka tidak?”, sebuah pertanyaan yang membuat bulu badan berdiri seketika, dan membuat sapu tidur semalam tidak teratur.
Dia, curahkan hatinya, harapnya, seakan-akan membuat aku berpaling dari dunia emosional (tentu emosional yang negative) kepada perjuangan yang sadar. Wawasannya yang luas, menggugah dan alkitabiah, menjadi kekhasan tersendiri baginya. Bait-bait pikiran yang keluar darinya dan sa yang mendengar setengah setuju saat itu sesungguhnya memberi arti betapa pentingnya melakukan perjuangan tanpa mengandalkan emosi yang berlebihan terhadap penjajah.
Sampai bila penjajahan terus berlangsung, dan ketika emosi menjadi alternatif pelengkap perlawanan revolusi, maka tidak ada jalan lain, selain perlawanan total massa rakyat Papua Barat. Itulah ungkapan emosi saya. Tapi benarkah? Butuh proses pencerahan hati yang panjang, baby...!***
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Derita Jalanan
25/02/08
Kosovo dan Papua Barat dalam Konfrontasi Internasional: Catatan bagi GNPB
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Pendidikan Politik
12/02/08
Dia, Mereka & Aku
Maaf blog, siang ini saya baru menggores wajah di diding hijaumu, setelah sebulan kemarin tak terisi . Bukan karena hilang kata-kata. Bukan juga tidak ada bahan cerita. Saya sudah mencoba memulai tulis, tapi terlalu banyak yang ingin ku ungkap, dan terpaksa tidak ku lanjutkan karena bingun mulai dari mana.
Rasanya, otot-otot diluar pusat pikiran ini sakit, hingga membuat saya tidak berfikir sistematis dalam menghiasi dirimu blog. Sakit bukan karena angin semalam di Kota Raja, Port Numbay, hingga pagi atau hujan rintik malam, tapi, hujan masalah ini terlalu deras mengalir di keseluruhan akal sadar ini. Andai engkau bermata pasti engkau pun ikut berbagi air mata semalam, dan andai engkau punya rasa, pasti engkau pun ikut sakit.
Dua bulan ini, satu dalam topik yang tidak lepasnya dari Derita Anak Jalanan. Derita tentang noktah hitam di akhir dan diawal tahun 2007-2008. TIga-dua-satu masih ku rasa. Sebuah sinetron dari publikasi pribadi. Sekali akting dan tak terekam untukku memutar ulang suatu saat. Yang berlalu kita relakan, dan yang baru hadapinya dalam cerita anakan jalanan.
Walau hanya tulis tak bermakna, tapi harus ku ungkap. Sebuah cerita bercampur rasa, dari ceria beruba duka, dan sebaliknya. Tentang dia, saya dan mereka. Dia begitu pesona dalam dunia rasa ceria dan duka, mereka yang mengitariku dan aku yang menjadi korbannya.
Kuasa dia dan mereka mengalir di bak sanubari. Dia, dan hadirku seminggu di akhir tahun mempersonah dan mereka, harapku demi tanahku, membingungkanku.
Blog, sa tidak tidak bisa melanjutkan cerita ini. Sa minta maaf, Sekali lagi...
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Derita Jalanan
08/12/07
Pikirku Tak Berujung
Pikirku kemarin lara berujung
hari ini masih ada
Kita memang beda rasa
aku melangka disaat seribu jarak langka kita
terlanjur senang disaat-saat aku jatuh
masih mungkin ku pikul saat 1000 beban masih
saat kau tak pernah ada rasa
saat itu ruang kelam ini menyiksa
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Puisi Perjuangan
29/11/07
Kawan (Rakyat Pejuang), Anda Tidak Sendirian!
-----------------------------------------
Catatan untuk Rakyat Pejuang Papua Barat
-----------------------------------------
Kawan, saya sadari betul bahwa hari-hari kita sejak kita lahir di atas tanah ini, memang penuh dengan berita tentang pembunuhan dan kematian. Ada yang mati di hutan, ada yang mati di kampung, ada dibunuh di kota, ada yang dibunuh di desa, ada yang dibunuh di areal pertambangan, ada mati di penjara, ada yang mati digunung, ada yang mati di pesisir pantai, ada yang mati dalam pejalanan, ada mati…. Memang mati banyak. Mereka mati setiap hari. Tapi, kawan kita tahu saja bahwa mereka terus mati begaikan semut karena mereka pecinta kebanaran. Mereka ingin kemanusiaannya manusia itu harus ditegakkan di dunia ini. Mereka adalah pewarta kebenaran kemanusiaan yang telah dinubuatkan dalam banyak kitab.
Kawan, kita juga melihat mereka menggempur dan mengambil semua yang kita miliki. Katanya, “Berikan semua. Semua punya kami. Kami akan atur kalian.” Mereka terus merampas hak-hak hidup kita termasuk harga diri kita diinjak-injak. Kita benar-benar tidak bebas berbuat sekehendak hati di atas tanah air kita. Ya begitulah kawan. Itulah kenyataan penjajahan yang memang pahit. Sungguh menyakitkan. Tapi kawan, kita harus kuat, kita harus bangkit dari keadaan ini. Kita tidak boleh diam, kerena penjajajhan yang pedih itu. Rakyat yang tertidur harus dibangkitkan untuk melawan. Mama yang berjualan di bawah meja itu harus bangkit membela haknya. Mahasiswa harus menjadi barisan depan (pembebas). Anak-anak sekolah harus memimpin perlawanan ini. Anak-anak dalam kandungan harus lahir dalam roh pembebasan. Semua orang harus berpikir tentang pembebasan ini untuk massa depan kita dan negeri kita.
Kawan, kita harus menjadikan semua kelompok berada dalam satu garis pembebasan manusia yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran itu memang ada dan benar akan terus dibuktikan oleh berjalannya waktu. Dan saat itu tak ada satu kekuatanpun yang dapat menahannya. Dan saat itu Anda akan duduk di bangku yang paling depan untuk menyaksikan kebanaran itu terjadi di depan Anda.
Kawan, melihat kampungmu, kotamu, bangsamu itu seperti medan pertempuran dan perlombaan. Itulah kenyataan yang memang menyakitkan. Dalam situasi ini ada keinginan untuk mundur. Tapi kawan, mundur itu bukan jalan kita. Jalan kita adalah jalan pembebasan. Jalan pembebasan atas tanah dan rakyat kita bersama rakyat semesta. Karena itulah jalan mulia yang kita pilih untuk tanah itu. Tanah Papua Barat.
Kawan, memang tidak ada sesuatu yang berharga selain pembebasan manusia. Karena yang berharga di alam raya ini adalah manusia. Maka manusia harus dibebaskan dari penajajahan dari dan oleh siapapun dalam bentuk apapun. Manusia harus menjadi bebas di atas tanah moyang pemberian Sang Sumber Cinta.
Kawan, langit Papua Barat masih biru, membuat biru harapan kita. Hari kita sekarang adalah hari abu-abu, tetapi hari kita ke depan adalah bukan hari abu-abu. Hari kita ke depan adalah hari terang benderang Karena bintang itu. Karena KEJORA itu akan bersinar di atas tanah itu. Hari kita akan menuai hasil pahitnya penjajahan ini. Perjuangan ini sedang dan terus berjalan demi cinta yang lebih besar dan kemuliaan yang lebih besar dan untuk sebuah nama, Papua Barat.
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Derita Jalanan
14/10/07
Menjadi Diri Sendiri & Berontak Terhadap Musu!
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Pendidikan Politik
03/10/07
08/09/07
Belum Cukup
oleh ^Q
Victor Yeimo
0
komentar
Foto Aksi Derita Jalanan
