19/03/08

BAHAYA KECELAKAAN POLITIK: WIN-WIN OPPORTUNITY

"Sekedar kerangka berfikir bersama dalam menyikapi aksi-aksi perjuangan"

Oleh: Victor F. Yeimo

Pengalam Lalu: Siapa yang salah

Sejarah seharusnya menjadi guru yang baik dalam melakukan perjuangan pembebasan nasional Papua Barat. Pertama, Secara de facto 1 Desember 1961, rakyat Papua Barat berikrar mendirikan negara Papua Barat, nyatanya Jakarta dengan misi trikora mengklaim itu negara boneka, hasilnya pendudukan NKRI di bumi kasuari ini; kedua, PEPERA 69 paling tidak DMP difungsikan dan bisa jadi kemenangan rakyat Papua, ternyata 1025 jiwa berhasil diringkut untuk memenangkan PEPERA; ketiga, sebagai reaksinya, OPM bermula di Manokwari melakukan perlawanan, hasilnya rakyat Papua Barat korban militer sebelum dan sejak DOM di Papua Barat.

[+/-] Selengkapnya...

28/02/08

Emosi Revolusi Dalam Kekuatan Cinta

Dalam darah juang ini, tak pisahnya dari dua hal yang telah memborong perhatian, hadir dan semakin tak dapat sa bendung, banyak menyita perhatian, mengisi ruang-ruang massa puber yang semakin senja, antara romantisme dan revolusi. Dua hal yang meruba wujud pembentukan rohani dan mentalitas. Membuat sa jatuh dan bangkit demi makna terselubung dalam hidup ini.

Perjuangan belum berakhir, dan tak rubahnya, deras penjajahan tak henti. Ia mengalir membentur bilik hati yang merana pengharapan. Menusuk dan semakin menjadi-jadi, hingga tujuh jurus mengelola emosi, karya Dudung yang pernah sa baca, tak mempan lagi. Sebuah kondisi sub-human, tutur Dom Helder Camara, dari praktek penjajahan, menjadi nyata pada saya dan semua kolega saya yang berada di hutan belantara, di jalan-jalan demonstrasi anak bangsa, dan di jeruji besi kolonial Indonesia.

Pada bagian ini, perlawanan emosi mengganti Ak-47 dan M-16, senjata mental yang jelas-jelas tak berpeluruh, yang ku pikul dengan capeh setiap saat berjalan melalui rimba kehidupan yang penuh tantangan di alam hasrat. Saat-saat dimana sa membutuhkan pengharapan. Ini memang jalan revolusi tak berwujud, saat dimana aku butuh saat-saat teduh yang panjang bersama dalam ruang lain dari satu atap konsentrasi ini.

Di ruang-ruang yang lain itu, mirip cinta agape turut memaknai darah juang. Selayaknya manusia, secara kodrati, ia kekasihku, bukan sekedar kebutuhan rohani, tapi tak ubahnya sebuah pengasah pedang tempur. Aku pedang tempur yang diasah di medan revolusi. Dia yang tak dapat ku rangkai dalam bait-bait puisi malam.

Bisik-bisik kecil kita semalam, terlarut dalam emosi, hingga kekasih, kau tinggal tugasmu, hampir bangun kesiangan, di ruang klas itu, kelopak mata berkedip dan tak membuka lama. Emosi ternyata membuat kita terlena. Bukan karena benci, tapi semua karena cinta agape.

Hadirnya di sore kemarin, membuka pendengaranku melebar, mata hati menjadi sensitif, pembulu darah menjadi besar. Saat itu, seperti puisi Pablo Marinda, sa ucap kata dalam menaklukan emosi kami semalam, sebuah pembahasan kecil yang memaksaku memaknai arti penting dari sebuah komunikasi.

Bayang-bayang emosi penjajah masih mengikuti, disaat bicara kita kemarin tentang penghianat bangsa kita, Papua Barat yang menggerogoti kemaluan mama kita, tanah air Papua Barat. “Mereka anak negeri yang rela membuka kain sutra mama”, sebuah kutipan puisi kepedihan anak Fak-fak (Yohanes Adopak) yang pernah tersalin di blog bebo. Anda tau?, dia, kekasihku, berusaha menyirami lahar emosi ini dengan ucapaan yang sebenarnya bermakna, hal mana kurasakan sehabis bicara hingga semalam.

Perdebatan kami kemarin selaras tujuan dengan rasa yang berbeda. Hingga pretensi kita berbeda haluan. Disaat emosi diperlukan dalam perjuangan pembebasan Papua Barat dan bahaya emosi bagi gerakan pembebasan.

Darah mendidih dan seakan emosi menjadi jembatan melakukan revolusi. Itu jalan satu-satunya yang coba sa tawarkan dalam diskusi bersama dia kekasihku di negeri Kangkuru, sebuah negeri yang tak bedanya dengan praktek penjajahan yang terjadi disana. Cukup menarik juga, ia bertutur dalam keemasan suara merdu, dan sa yang dikuasai ambiguitas, tetap bertahan dalam argumen saya.

Dari semua kata berarti yang ia ucap, satu hal ia ucap, ucapan yang tak bisa saya debat lagi. Hilang kata-kata, dan memang saya tidak punya dasar untuk mencoba menggugurkan kalimat yang terucap dari bibir kekasihku.

“Baby,” panggilnya mesrah, “kalau berjuang angkat senjata karena emosi, ko siap secara jasmani, tapi rohani siap ka tidak?”, sebuah pertanyaan yang membuat bulu badan berdiri seketika, dan membuat sapu tidur semalam tidak teratur.

Dia, curahkan hatinya, harapnya, seakan-akan membuat aku berpaling dari dunia emosional (tentu emosional yang negative) kepada perjuangan yang sadar. Wawasannya yang luas, menggugah dan alkitabiah, menjadi kekhasan tersendiri baginya. Bait-bait pikiran yang keluar darinya dan sa yang mendengar setengah setuju saat itu sesungguhnya memberi arti betapa pentingnya melakukan perjuangan tanpa mengandalkan emosi yang berlebihan terhadap penjajah.

Sampai bila penjajahan terus berlangsung, dan ketika emosi menjadi alternatif pelengkap perlawanan revolusi, maka tidak ada jalan lain, selain perlawanan total massa rakyat Papua Barat. Itulah ungkapan emosi saya. Tapi benarkah? Butuh proses pencerahan hati yang panjang, baby...!***

[+/-] Selengkapnya...

25/02/08

Kosovo dan Papua Barat dalam Konfrontasi Internasional: Catatan bagi GNPB

Oleh: Victor F. Yeimo*

PADA 17 Februari 2008 lalu, Kosovo secara resmi menjadi sebuah negara terpisah dari negara bagian Serbia. Negara itu merdeka setelah berjuang dari kediktatoran Serbia yang mengakibatkan pelanggaran HAM di provinsi itu (sebelumnya) . Perjuangan Kosovo, bagi Politisi Indonesia dan komunitas internasional yang tidak tahu sejarah kebenaran Papua Barat adalah a persisnya, yaitu sebuah gerakan pemisahan diri (separatis) yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip PBB tentang integritas wilayah dan kedaulatan negara.

[+/-] Selengkapnya...

12/02/08

Dia, Mereka & Aku

Bukan karena benci. Bukan dendam. Bukan pula iri dan dengki. Tapi, ini soal mati atau hidup. Bukan karena saya takut mati, dan bukan untuk menghidupi diri, tapi soal kita dan tanah. Sebuah cerita panjang dalam lembaran hidup yang tak kunjung titik.

Maaf blog, siang ini saya baru menggores wajah di diding hijaumu, setelah sebulan kemarin tak terisi . Bukan karena hilang kata-kata. Bukan juga tidak ada bahan cerita. Saya sudah mencoba memulai tulis, tapi terlalu banyak yang ingin ku ungkap, dan terpaksa tidak ku lanjutkan karena bingun mulai dari mana.

Rasanya, otot-otot diluar pusat pikiran ini sakit, hingga membuat saya tidak berfikir sistematis dalam menghiasi dirimu blog. Sakit bukan karena angin semalam di Kota Raja, Port Numbay, hingga pagi atau hujan rintik malam, tapi, hujan masalah ini terlalu deras mengalir di keseluruhan akal sadar ini. Andai engkau bermata pasti engkau pun ikut berbagi air mata semalam, dan andai engkau punya rasa, pasti engkau pun ikut sakit.

Dua bulan ini, satu dalam topik yang tidak lepasnya dari Derita Anak Jalanan. Derita tentang noktah hitam di akhir dan diawal tahun 2007-2008. TIga-dua-satu masih ku rasa. Sebuah sinetron dari publikasi pribadi. Sekali akting dan tak terekam untukku memutar ulang suatu saat. Yang berlalu kita relakan, dan yang baru hadapinya dalam cerita anakan jalanan.

Walau hanya tulis tak bermakna, tapi harus ku ungkap. Sebuah cerita bercampur rasa, dari ceria beruba duka, dan sebaliknya. Tentang dia, saya dan mereka. Dia begitu pesona dalam dunia rasa ceria dan duka, mereka yang mengitariku dan aku yang menjadi korbannya.

Kuasa dia dan mereka mengalir di bak sanubari. Dia, dan hadirku seminggu di akhir tahun mempersonah dan mereka, harapku demi tanahku, membingungkanku.

Blog, sa tidak tidak bisa melanjutkan cerita ini. Sa minta maaf, Sekali lagi...

[+/-] Selengkapnya...

08/12/07

Pikirku Tak Berujung

Pikirku kemarin lara berujung
hari ini masih ada
Kita memang beda rasa
aku melangka disaat seribu jarak langka kita
terlanjur senang disaat-saat aku jatuh
masih mungkin ku pikul saat 1000 beban masih
saat kau tak pernah ada rasa
saat itu ruang kelam ini menyiksa

[+/-] Selengkapnya...

29/11/07

Kawan (Rakyat Pejuang), Anda Tidak Sendirian!

-----------------------------------------
Catatan untuk Rakyat Pejuang Papua Barat
-----------------------------------------

Kawan, perjuangan ini terus dan akan berjalan, walau tiap sudut perjuangan tersimpan sejuta duka. Duka yang kadang-kadang Anda, saya dan rakyat semesta Papua Barat dibuatnya kandas. Tapi, bukan kandas yang membuat kita mundur. Kandas yang memberi kita sedikit waktu untuk merenung dan setelah itu terus berjuang. Duka dan sepinya perjuangan ini justru membuat kita dewasa dan bijaksana untuk tetap memilih jalan pembebasan ini. Pembebasan atas diri kita dan tanah kita. Dan yang lebih penting adalah pembebasan Nasional Papua Barat.

Kawan, saya sadari betul bahwa hari-hari kita sejak kita lahir di atas tanah ini, memang penuh dengan berita tentang pembunuhan dan kematian. Ada yang mati di hutan, ada yang mati di kampung, ada dibunuh di kota, ada yang dibunuh di desa, ada yang dibunuh di areal pertambangan, ada mati di penjara, ada yang mati digunung, ada yang mati di pesisir pantai, ada yang mati dalam pejalanan, ada mati…. Memang mati banyak. Mereka mati setiap hari. Tapi, kawan kita tahu saja bahwa mereka terus mati begaikan semut karena mereka pecinta kebanaran. Mereka ingin kemanusiaannya manusia itu harus ditegakkan di dunia ini. Mereka adalah pewarta kebenaran kemanusiaan yang telah dinubuatkan dalam banyak kitab.

Kawan, kita juga melihat mereka menggempur dan mengambil semua yang kita miliki. Katanya, “Berikan semua. Semua punya kami. Kami akan atur kalian.” Mereka terus merampas hak-hak hidup kita termasuk harga diri kita diinjak-injak. Kita benar-benar tidak bebas berbuat sekehendak hati di atas tanah air kita. Ya begitulah kawan. Itulah kenyataan penjajahan yang memang pahit. Sungguh menyakitkan. Tapi kawan, kita harus kuat, kita harus bangkit dari keadaan ini. Kita tidak boleh diam, kerena penjajajhan yang pedih itu. Rakyat yang tertidur harus dibangkitkan untuk melawan. Mama yang berjualan di bawah meja itu harus bangkit membela haknya. Mahasiswa harus menjadi barisan depan (pembebas). Anak-anak sekolah harus memimpin perlawanan ini. Anak-anak dalam kandungan harus lahir dalam roh pembebasan. Semua orang harus berpikir tentang pembebasan ini untuk massa depan kita dan negeri kita.

Kawan, kita harus menjadikan semua kelompok berada dalam satu garis pembebasan manusia yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran itu memang ada dan benar akan terus dibuktikan oleh berjalannya waktu. Dan saat itu tak ada satu kekuatanpun yang dapat menahannya. Dan saat itu Anda akan duduk di bangku yang paling depan untuk menyaksikan kebanaran itu terjadi di depan Anda.

Kawan, melihat kampungmu, kotamu, bangsamu itu seperti medan pertempuran dan perlombaan. Itulah kenyataan yang memang menyakitkan. Dalam situasi ini ada keinginan untuk mundur. Tapi kawan, mundur itu bukan jalan kita. Jalan kita adalah jalan pembebasan. Jalan pembebasan atas tanah dan rakyat kita bersama rakyat semesta. Karena itulah jalan mulia yang kita pilih untuk tanah itu. Tanah Papua Barat.

Kawan, memang tidak ada sesuatu yang berharga selain pembebasan manusia. Karena yang berharga di alam raya ini adalah manusia. Maka manusia harus dibebaskan dari penajajahan dari dan oleh siapapun dalam bentuk apapun. Manusia harus menjadi bebas di atas tanah moyang pemberian Sang Sumber Cinta.

Kawan, langit Papua Barat masih biru, membuat biru harapan kita. Hari kita sekarang adalah hari abu-abu, tetapi hari kita ke depan adalah bukan hari abu-abu. Hari kita ke depan adalah hari terang benderang Karena bintang itu. Karena KEJORA itu akan bersinar di atas tanah itu. Hari kita akan menuai hasil pahitnya penjajahan ini. Perjuangan ini sedang dan terus berjalan demi cinta yang lebih besar dan kemuliaan yang lebih besar dan untuk sebuah nama, Papua Barat.

[+/-] Selengkapnya...

14/10/07

Menjadi Diri Sendiri & Berontak Terhadap Musu!

Victor  F. Yeimo

Untuk ko yang merasa terjajah, tra bebas dan terpenjarah. “Bangun dan berontaklah! Ko pu hak dan tanggung jawab besar buat mengikuti kehendak sendiri. Kenapa mo hidup kalo selalu mo terjajah?” [Sa tulis ini sebagai sebuah renungan, ajaran dan teguran setelah teropsesi baca buku karangan Malka, The Road To Freedom].---Gresik, 13 Oktober 2007, 11.36 WIB]

[+/-] Selengkapnya...

03/10/07

Ternya Dia Kawan Kita


[+/-] Selengkapnya...

08/09/07

Belum Cukup

Aku tidak terkejut membaca berita pagi ini: Nabire kembali berdarah; Biak seakan menjadi pulau pramuria bagi Rusia-Indonesia kompromi bangun pangkalan satelit Rusia, Imigran mendominasi seluruh wilayah Papua. Kemarin tetap sama hari ini. Masih mungkin esok sepersis hari ini. Aku dengar, aku melihat dan merasakan. Semuanya masih. Lambat laun, mengembang dan mengeras hingga hati membeku.

Dalam kebekuanku, aku bertanya dalam-dalam, masihkah mungkin seinci terik matahari membakar segala beku menjadi debu jalanan? Aku menghirupnya dan walau aku tahu kandungan debu itu, aku ingin tetap menghirup dan merasakan bibit sakit yang bercampur. -------------------------------------------------------------
Aku ingin membagi sakit ini kawan, walau aku dan engkau pun tahu itu penyakit jalanan, agar engkau pun TIDAK tetap berkata: "apapun yang saya lakukan adalah urusan saya", dengan dasar logika: "apapun yang saya lakukan hanya berdampak pada diri saya". Aku ingin engkaupun merasakannya. Agar kaupun tak membuta dan tidak terus terjebak dengan cara berfikir opposisi dalam melihat diri dan realita penindasan Papua.

[+/-] Selengkapnya...

14/08/07

Ajari Aku Pasti Tuhan

1+1 = 2, 2-1= 1, 1+2 = 3, 3-1= 2

Tuhan, ajari aku untuk selalu setia sabar. Bukankah itu hukum pasti?
Tapi, bilakah waktunya tiba ku ingin lebih lama lagi berada dalam kirbatmu......!

Love you GOD

[+/-] Selengkapnya...